Kenangan Tentang Kota Yogyakarta

Long time ago before I heard about Malang, saya udah sering mendengar tentang kota Jogja. Di sini, di tempat saya dilahirkan dan dibesarkan Jogja disebut sebagai kota pelajar karena selalu menjadi tujuan para pelajar di daerahku untuk melanjutkan kuliah.

Pertama kali menginjakkan kaki di kota Jogja, tepatnya setahun setelah mulai kuliah di Malang. Berawal dari mendengar cerita seorang teman betapa dia menyukai kota Jogja karena di sana adalah kota kenangan baginya, akhirnya saya memutuskan untuk liburan ke Jogja ketimbang pulang ke rumah #GerakanMalasMudik

candi prambanan di jogja

Setiap orang yang bepergian ke tempat baru pasti punya alasan, kesan dan punya kenangan tersendiri tentang tempat yang sudah dikunjungi, bukan? Setiap kali mendengar kata Jogja bawaannya selalu baper dan nostalgia.

Berikut ini adalah kenangan saya tentang Jogja sebagai alasan kenapa kota Jogja juga disebut sebagai kota dengan banyak kenangan buatku.

  • Gak ada angkot

Kebetulan saat itu motor yang ada cuma satu, sementara kami bertiga (satu orang adalah sahabat dari temenku) jadi saya mengusulkan supaya kami naik angkot aja tapi kata mereka,

“Di Jogja nggak ada angkot Tii. Sehari-hari masyarakat menggunakan kendaraan pribadi, bus TransJogja dan Taxi.”

Kebetulan saya mengidap Syndrom Ndeso tipe MabokDarat alias nggak kuat naik mobil hahaha, jadi sehari-hari kami selalu melewati jalan-jalan tikus dengan berboncengan tiga dengan mengendarai motor matic.

  • Sistem kost bisa campur cewek cowok

Kebetulan saya punya temen SD yang juga kuliah di Jogja jadi saya sempatin dah main ke kosannya, kebetulan udah bertahun-tahun nggak ketemu. Saya kaget ketika melihat beberapa cowok seliweran di lantai satu sementara kamar temenku ada di lantai dua.

Di Malang saya belum menemukan kosan yang penghuninya terdiri dari dua jenis gender di bawah satu atap, rata-rata hanya kosan cewek tersendiri dan cowok tersendiri. Dan aturan itu begitu ketat.

Kata temenku, di Jogja memang banyak kosan yang bisa campur cewek dan cowok dan aturannya gak seketat di Malang.

Menarik!

  • Harga makanan sedikit lebih mahal  

Perbandingan harganya bukan dengan daerah di luar Jawa broh, tapi dibandingkan sama Malang. Saya masih ingat ketika kami sedang membeli makan dan saya lagi pengen minum jus.

Kalo nggak salah ya, saat itu saya beli jus alpukat di warung dan harganya sekitar Rp 7.000 – Rp 8.000 (sekitar tahun 2011) dan di Malang saya bisa minum jus sampai kembung dengan harga Rp. 5000 perak.

  • Rasa makanan dominan manis

Tadinya saya kira makanan di Malang mayoritas manis (kurang pedes, lebih tepatnya) ternyata makanan di Jogja hampir setiap hari saya dapat makanan yang rasanya manis.

Saya masih ingat ketika kami membeli makan di warung yang gak jauh dari kosan tempat kami menginap, saya tertarik dengan telur rebus yang disambel.

Penampilannya merah menyala seolah-olah cabe dan tomat beradu menghasilkan rasa pedes luar biasa, temen kami si Mungil udah wanti-wanti duluan,

“Tiii, gak usah banyak-banyak ntar kamu gak bisa makan kok.”

Ternyata emang beneran gak habis makanannya karena manis broh, saya bingung warna merah menyala itu dari bahan apa kok nggak pedes sih mbok?

  • Nasi kucing dan angkringan bertebaran 

Hal yang paling saya suka tentang Jogja adalah nasi kucing dan angkringan. Saat itu saya pertama kali tahu tentang angkringan dan nasi kucing ya dari Jogja. Pada tahun 2011 belum ada angkringan yang saya lihat di Malang dan hanya ada satu stand nasi kucing di Malang pada saat itu.

Saya pribadi menilai selain disebut sebagai kota pelajar, Jogja juga bisa disebut sebagai kota dengan angkringan yang seru dan nasi kucing yang murah meriah dan enak.

  • Kehidupan Malam di Jogja 

Saya bukan sedang membicarakan menghabiskan waktu malam di klub sambil minum alkohol. Definitely not.

Saya suka dengan suasana malam di kota Jogja, saya bersedia berjalan kaki berjam-jam di pinggir jalan sambil menikmati pemandangan orang-orang duduk di lesehan angkringan. Ada yang ngopi, ada yang nyanyi-nyanyi, dan banyaklah.

Hampir di setiap sisi jalan yang saya lewati ketika pulang ke kosan temen kami, banyak anak muda yang duduk di lesehan angkringan dan gerobak nasi kucing yang harganya mulai dari Rp 3.000 .

Well, Jogja is awesome.

Advertisements

18 thoughts on “Kenangan Tentang Kota Yogyakarta

  1. datang berkunjuuung, hehehe

    soal angkot tuh bener2 deh. dulu 2015 ke sana ala backpacker, ngulik2 transport umum kok susyaah, pas nanya ke temen ternyata beneran jarang angkot di Jogja, mana blm bisa ngendarain motor. huhu untunglah ada kenalan yg bersedia boncengin selama di Jogja. kalau sekarang mungkin terbantu dgn ojek online kali ya,

    Like

  2. Di Jakarta jus malah udah sampe 10 ribu atau lebih. 🙂

    Kehidupan malam di Jogja sejujurnya buat gue menyenangkan, sih. Suka setiap kali nongkrong di angkringan, terus dengerin musik dari para pengamen. Mereka ngamen nggak asal terima duit aja kayak di bus-bus. Tapi ya betulan ngamen, nyanyiin banyak lagu. Boleh rikues juga. 😀

    Like

      1. Sudah sih mbk. Tapi ke tempat2 umum. Malioboro yang ga ketinggalan, sama candi2nya itu. Pas jaman sekolah dulu. Kalau angkutan umum dll blm pernah ngrasain hehe..

        Like

Feel free to tell me your opinion :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s