Belajar Dari Lirik Lagu Awkarin

What’s the first thing that crosses your mind when you read the title?

Mungkin saya telat untuk membahas tentang lagu ini atau penyanyinya tapi inspirasi tema ini lahir begitu aja sejak Awkarin selalu muncul di home feeds instagram saya, padahal saya nggak follow akun dia kok. Heran.

Heran.

First of all, saya bukan fans sok kenal atau hater sok tahu, bukan keduanya. Saya cuma orang yang telat penasaran yang berujung pada penelitian dan perenungan saya di blog ini.

Trus, bagaimana saya belajar dari lirik lagu Awkarin? Coba dilihat kembali video dibawah ini :

I am a bad girl,

Bila kalian tak pernah buat dosa,

silahkan hina aku sepuasnya

kalian semua suci aku penuh dosa

Well, liriknya tentang seseorang yang berani mengakui kekurangannya (for being a bad girl) dan kesalahannya (for being a bad girl), nggak bisa dipungkiri kan broh kalo jaman sekarang susah nemuin orang dengan karakter : berani mengakui kekurangan dan kesalahan dirinya.

Mostly, kita selalu dipertemukan dengan orang yang merasa dirinya paling baik dan udah pada bener hidupnya. LOL.

Kau benci diriku yang apa adanya,

Silahkan sukai mereka yang berlagak baik di depan kameraaaaahk!

*suara Yonglek rada melengking*

Well, prinsip ‘hidup’ di media sosial adalah : apa yang kamu posting, begitu juga yang kamu terima. Kamu mem-posting sesuatu yang ‘berbau’ negatif otomatis kamu juga PASTI akan menerima respon yang negatif dari sebagian orang.

Saya yakin, semua orang yang aktif di media sosial masing-masing memiliki sisi negatif didalam dirinya/hidupnya tetapi ada sebagian orang yang tahu tentang teori ‘how to control themselves in social media’.

Perihal apa yang mengontrol mereka untuk tidak sembarangan memposting sesuatu ke media sosial adalah, masalah privasi dan konsep konten yang memang udah ditentukan jauh-jauh hari.

Jadi, menurutku gak ada istilah ‘berlagak baik di depan kamera’ TAPI ‘mereka yang tahu mengontrol postingannya’. Menjadi apa adanya bukan berarti semua hal tentang dirimu harus diposting ke media sosial, bukan?

Tapi emang bener sih, kadang hidup bermasyarakat itu lucu lho. Orang-orang mau kita menjadi diri kita sendiri, mereka nggak suka sama hal yang dibuat-buat tapi ketika mereka tahu siapa jati diri kita yang sebenarnya… belum tentu mereka bisa menerima haha #TrusMerekaBaper #KemudianDiGampar #KaloKataKakCumilebay #FavBlogger

Mereka bilang aku penuh drama,

Tak punya bakat hanya vlogger biasa

Penuh drama.

Setelah melihat video seorang gadis nangis-nangis setelah diputusin pacarnya dan mencurahkan segala unek-uneknya secara gamblang ke media sosial yang disaksikan oleh ribuan bahkan ratusan ribu netizen *mungkin udah jutaan*… wajar sih kaloΒ orang akan melabeli seseorang dengan ‘drama queen’.

Setahuku drama itu kayak cerita telenovela dan sinetron yang banyak dibumbui air mata dan jalan cerita yang berliku-liku, kadang saya sampe eneg nontonnya haha. Jadi yaa, nggak usah ngeluh sih kalo dilabeli sebagai ‘drama queen’.

Kalo di lagu ini ada lirik yang bunyinya begini :

Memang gue anak nakal,

sering kali ngomong kasar tapi masih batas wajar

Di luar sana netizen juga berhak untuk nyanyi dengan lirik :

Memang gue netizen sok baik,

sering kali ngomen kasar tapi masih batas wajar

To be honest…

Saya gak suka dengan lagu ini bukan karena penyanyinya tapi emang lagunya nggak masuk dalam selera akikah. Hanya saja, lagu ini adalah bentuk curahan hati seseorang yang merasa terhina dan dibenci karena dia menjadi dirinya sendiri di kehidapan nyata dan di media sosial.

Sebenarnya beda tipis sama kehidupan nyata, apa yang kamu tunjukkan (posting) ke orang begitu juga yang kamu dapat. Meskipun kamu berpikir ‘well, ini positif kok masih batas wajar’ toh masih ada juga kemungkinan orang akan memberikan respon negatif.

APALAGI yang memang jelas di depan mata kamu tunjukkan pada dunia sesuatu yang negatif, isn’t it make sense?

You get what you deserve, sweetheart!

Jangan nilai kami dari cover-nya!

Siapa sih yang mau di-judge dari penampilan? nggak ada. Kutipan yang selalu saya pegang dalam hidup (meskipun kadang khilaf), don’t judge a book by it’s cover.

Seandainya saya ditanya, gimana pendapatmu tentang Awkarin?

Here is my thought..

Saya nggak men-judge gadis ini sebagai orang yang paling buruk seantero media sosial, nggak. I know where I stand. Saya dan dia mungkin sama buruknya kok. Saya nggak benci dia juga kok, lah ngapain? kenal aja nggak, numpang hidup apalagi. Sama sekali nggak, broh.

Saya juga bukan fans-nya dia dan saya nulis ini bukan karena membela Awkarin.

HELL NO!

Apa pun yang dilakukan gadis ini di luar sana, di media sosial, itu adalah urusannya dengan Tuhan dan keluarganya.

Namun, no matter how much you try to explain yourself to other people yaa dek Karin, menurutku itu nggak ada gunanya karena orang cenderung akan meyakini apa yang ingin mereka yakini.

You just have to move on and keep doing what makes you happy.

Last but not least, saya sempat baca dari tulisan-tulisan di gugel katanya motto-nya dese nih ‘nakal boleh, bego jangan’.

Menarik.

Persis seperti nasehat dosenku ketika membimbing saya menyelesaikan skripsi, ‘kalian boleh nakal tapi jangan bodoh juga dong.’ ha ha

In my mind, kalo kamu pinter ya pasti tahu dong tentang masalah privasi, pasti paham dengan dampak jangka panjang dari hidup yang kamu jalani sekarang dan kamu pasti paham gimana menjadi netizen yang bijak dalam bersosial media.

Bukan sok bijak, saya juga sering labil kok tapi saya yakin tidak banyak orang yang melihat saya masuk ke club kemudian joget-joget dengan gaya squat dalam tempo sesingkat-singkatnya dengan tangan meliuk-liuk mirip ular rematik.

Dan sebodoh-bodohnya orang pinter, mereka tahu mana bahasa manusia dan mana bahasa ‘kebun binatang’. Setahu saya, bahasa ‘kebun binatang’ hanya dipake disaat orang lagi marah and that’s the only languange they know at the moment to express their feelings.

Okelah… sekian analisa saya tentang lagu ini semoga bermanfaat untuk para abg yang sedang mencari jati diri dan sedang ada pada masa-masa aktif bermedia sosial.

Sstt.. saya juga dulu labil but I learned fast πŸ˜‰

Bye and peace out!

Advertisements

15 thoughts on “Belajar Dari Lirik Lagu Awkarin

  1. Dari kacamata sok tahu saya hehe, sekarang adalah dunianya milenial, lebih spesifik generasi terakhirnya yg lahirnya 95 sd 2000. Karakter mereka yg dibesarkan dg teknologi emang beda sama 90 ke bawah. Bukan sebagai pembeda utk menghalalkan apa yg sebenarnya engga boleh sih. Cuma dunia ini atau fase ini pasti ada masanya sendiri dan suatu saat akan berlalu. πŸ™‚

    Like

        1. kalo postingan yg di share di fb, kadang aku males Rizz wkwk soalnya orang2 tuh ngasal share penyakitnya lah, share ketik amin like masuk surga lah, puyeeng πŸ˜€ πŸ˜€

          Like

  2. Tak ada yg terlintas di pikiran saya saat baca judul postingan ini, slain bingung, πŸ˜‡πŸ˜‡ soalnya
    saya justru baru tahu ttg Awkarin stlah Anda ulas kemudian, πŸ˜‚πŸ˜‚

    Ketahuan kan, klo saya gak update bnget, πŸ˜‚πŸ˜‚

    Yg psti bermedsos lah sewajarnya, pembenaran diri jg jngan, terllu sok menghakimi jg jngan, gitu kli ya…
    Sebab ap yg kita tabur, itulah yg akan kita tuai.

    Like

Feel free to tell me your opinion :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s