Pernikahan Dini. Mau?

Nggak sengaja nonton acara infotainment sebelum ngantor, ternyata yang dibahas tentang pernikahan dini sepasang abg berumur 15 tahun yang lagi viral di media sosial karena umur mereka berdua dianggap terlalu muda untuk melaksanakan pernikahan.

Hah? 15 tahun udah nikah? Saya kira fenomena ini cuma ada di jaman mamaku masih terlihat keren dengan model rambut keriting yang dibentuk dari resep air buah nenas sebagai shampo.

Guys, seriously?

Kok saya yang berasa serem yah liatnya, wkwk.

Well, before I go further about this case this is better to let you know that I don’t give a damn about their choice.

Tapi saya peduli dengan anak-anak muda yang belum memutuskan untuk menikah di usia dini.

Menunda pernikahan di usia dini berarti kamu turut berjuang untuk perkembangan sumber daya manusia di negara kita. Sebagai anak muda, kamu masih punya banyak kesempatan, peluang dan pilihan untuk terus mengembangkan potensi dan mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

You know what, salah satu hal yang akan kamu syukuri ketika menjadi tua adalah kesempatan untuk bersekolah. Ilmu adalah satu dari banyak hal yang gak akan pernah lepas dari setiap manusia, ilmu berupa teori dan praktek jangka pendek kita dapat di bangku sekolah dan ilmu yang didapat di luar kelas kita kenal dengan sebutan ‘pengalaman’.

Bayangkan aja, di usia 15 tahun kalian masih harus bersekolah, masih banyak hal-hal mendasar tentang hidup yang masih harus kalian pelajari dan lewati. Misalnya seperti patah hati karena cinta monyet, belajar nabung untuk sesuatu yang kalian inginkan, merasakan ujian nasional, serunya bolos sekolah, serunya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan menjadi bocah petualang.

Dan masih banyak lagi, intinya adalah masa remaja adalah masa paling seru untuk ditinggalkan begitu saja.

Kemudian bandingkan lagi dengan kehidupan yang mungkin akan kalian miliki ketika memutuskan untuk menikah di usia 15 tahun. Seperti, mengurus suami dan anak-anak serta mengurus rumah. Di usia yang masih belia, sebagai perempuan yang katanya dianggap sebagai pihak yang paling banyak dirugikan dari pernikahan dini harus berurusan dengan kehamilan.

Saya kemudian teringat kembali dengan materi yang saya dapatkan di bangku SMP ketika sekolahku mengadakan seminar Sex Education. Bagi siswa kelas 3 SMP akan mendapatkan seminar pendidikan seks ini sekali setahun.

Pak Dokter Obgyn dan beberapa dokter lainnya yang hadir sebagai pemateri mengatakan bahwa organ reproduksi cewek di usia belasan tahun masih belum siap untuk mengandung. Mereka menambahkan bahwa kehamilan di usia dini juga sangat beresiko bagi bayi dan ibunya. Salah satu resiko terburuk adalah mengalami kematian ketika melahirkan.

Di satu sisi, ketika saya dewasa saya mendapati bahwa ternyata salah satu faktor yang menyebabkan cewek terkena kanker serviks adalah karena aktivitas seksual di usia dini.

Ohmaigat! Serem kan?

Terlepas dari hal-hal yang menyeramkan di atas, di sini saya banyak melihat banyak janda muda yang rata-rata menikah di usia belasan tahun yang diakibatkan oleh kehamilan yang tidak diinginkan. Istilah kerennya itu, ‘Married by Accident’ dan disingkat sebagai MBA.

Kenapa bercerai? Alasannya berbagai macam broh, salah satunya karena mereka belum dewasa dalam menyikapi segala permasalahan rumah tangga dan ujung-ujungnya justru diintervensi oleh orang tua masing-masing pihak.

Atau jargon yang dianggap romantis dan manis bagi penggiat ‘ayo menikah’ di home feeds FB saya adalah ‘menemanimu dari NOL’.

Yap, sebagai remaja yang harus berjuang dari nol menafkahi keluarga kecilnya di mana mereka seharusnya bersekolah justru malah bekerja serabutan demi rumah tangga yang dibentuk atas dasar cinta dan nekat.

Ya iyalah nekat, di usia belia sudah berani untuk memutuskan melakukan hubungan seks. Uang bensin masih minta sama emak, eh udah berani buntingin anak orang. Piye iki jal? kurang nekat apa coba.

Duh, bayangin nasib kayak gitu udah males apalagi kalo harus menjalani. Jadi, sebaiknya dihindari aja lah. Naudzubillahiminzalik. Ketuk meja 3 kali.

I don’t know about you but here is my thought.

Ketika saya masih remaja, saya selalu berpikir bahwa jika saya menikah maka otomatis hidupku akan berhenti. Maksudnya begini, kehidupan seseorang sebelum dan sesudah menikah menurut apa yang saya perhatikan selama ini ternyata justru akan berubah.

Bisa berubah menjadi lebih baik atau bahkan menjadi lebih buruk. Kebetulan banget, apa yang saya lihat adalah maraknya pernikahan dini di sekitarku yang berujung pada kemelaratan dan perceraian akibat tidak adanya persiapan yang matang.

 

Masa muda adalah masa-masa yang sebaiknya dinikmati untuk terus mengembangkan potensi diri, bersekolah dan menambah pengalaman. Okelah, menikah juga menambah pengalaman dan katanya bisa mendewasakan seseorang.

Mungkin dewasa dalam menyikapi hidup kali yak, bahwa hidup ini bukan hanya tentang hura-hura dan jalan-jalan seperti nasehat mamaku dulu ketika saya masih kuliah.

Dewasa karena di usia dini akhirnya seseorang belajar tentang bagaimana mengurus bayi, mengurus suami dan pentingnya kestabilan perekonomian untuk membangun rumah tangga.

Seorang cewek akan dewasa karena keadaan yang membuat dia sadar bahwa cinta tanpa keamanan finansial ternyata kurang bisa membuat dia bahagia. Dan seorang laki-laki akan dewasa dengan menyadari bahwa, punya cinta aja nggak cukup karena dia juga butuh istri yang memahami dirinya dan kebutuhannya.

Belajar dewasa tentang pentingnya seks yang berkualitas untuk menjaga keharmonisan rumah tangga wkwk, entah kenapa saya merasa geli ketika menuliskan kalimat ini. Karena di usia belasan, saya malah sibuk memikirkan bagaimana cara memancungkan hidung pesek dengan cara alami supaya gak di bully di sekolah.

Karena saat itu saya yakin kalau saya gak akan sanggup untuk melakukan operasi plastik, selain karena biayanya mahal dan saya juga takut masuk neraka karena perkara oplas.

Last but not least, pernikahan memang indah kalau dilakukan di waktu yang tepat dengan orang yang tepat. Pernikahan akan berubah menjadi mimpi buruk dan penyesalan seumur hidup kalau dilakukan tanpa persiapan (mental, finansial, fisik, etc).

Karena, kenyataan yang ada di lapangan menunjukkan kalau pernikahan yang dipersiapkan dengan matang pun bisa saja mengalami kegagalan apalagi yang tanpa persiapan sama sekali.

Beteweh, 5 hari lagi kita akan lebaran yaa dan bagi yang masih lajang sebaiknya mempersiapkan diri untuk menghadapi pertanyaan ‘jadi, kapan nih dilamar?’ atau ‘kapan mau nikah?’ atau ‘kapan wisuda?’ atau ini ‘gimana skripsinya?’.

Advertisements

20 thoughts on “Pernikahan Dini. Mau?

  1. banyak yang bersembunyi di balik kalimat “biar nanti kalo punya anak usianya ga beda jauh sama orang tuanya, jadi udah kaya teman aja”….

    mengerikan *cet rambut* *nutupin uban* *pake warna pink* *kombinasi kuning* *bertabur glitter*

    Like

  2. Nu

    Bener banget kak. Setelah melihat, mengamati dan menerawang orang2 yg uda pada nikah. Mental kuat nan baja lah orng yg sudah menikah. Nah masih abg labil. Ya semoga yg terbaik untuk sebuah keputusan besar lah

    Like

  3. Maraza

    Di kampung mama mertua, masih ada anak yang dinikahkan di usia yang lebih muda. 12 tahun! Begitu lulus sd married dan saya nggak bisa mengerti jalan pikiran orang tuanya. Ini jaman apa kok masih ada yang begitu.
    Akibatnya? Anak yang dilahirkan tidak sesehat anak dengan ibu yang cukup matang. Ironis

    Like

  4. pernah baca kisah suku2 jaman dulu pernikahan dini sudah biasa….cuma kalau jaman dulu ituuu.. anak-anak lakinya cepat sekali “dewasa” sudah disiapkan memegang tanggung jawab, dibiasakan mandiri, hidup keras, bekerja mencari nafkah sendiri, entah dari berdagang, berburu dan mengerjakan pekerjaan lain.. sementara anak perempuan disiapkan jadi ibu, krn kesempatan dan pekerjaan alternatif lainnya tidak sebanyak skrg. kalau untuk kondisi jaman skrg, dengan logika kematangan otak, skala priortas, serta medis ya sebaiknya 20 an. sygnya msh bnyk di usia awal itu pria blm siap menjadi kepala rmh tangga, siapnya saat jelang 30-an (tergantung tekaan sosial sebuah negara). bisa dibilang kesiapan berumah tangga manusia modern usianya makin mundur…

    Like

    1. Iyaaa mba Fib, benerr… Anehnya lagi, kenapa ya kakek2 jaman dulu meskipun nikah muda tapi setianya awet, lah kakek2 jaman sekarang boro2 setianya awet, yg ada koleksi cewe wakwaww (meskipun gak semuanya sii begitu hehehee)

      Like

  5. Jadi inget sama sinetron jadul yg dibintangi Agnez mo dan Sahrul Gunawan: Pernikahan Dini, 😉

    PD jngan maulah, aplg MBA, waduh…😇😇

    2 paragraf sblm paragraf terakhir nurutku pas bnget sbgai kunci trkait nikah atau single dlu.

    Sipp share nya. Tks

    Like

Feel free to tell me your opinion :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s