Bukan Hartamu yang Membuatku Bertahan

Bagi sebagian orang, ada yang menganggap bahwa uang merupakan kunci kesuksesan sebuah hubungan. Pemikiran seperti ini bagiku tidak salah tapi tidak juga benar.

Pemikiran seperti ini sifatnya relatif. Bagiku.

Aku yang sekarang adalah sebuah wujud dari transformasi gadis lugu menjadi wanita yang disebut-sebut sebagai tokoh realistis oleh seorang teman dekatku.

Katanya, aku ini seperti pengikut seorang Karl Max. Entah dia benar-benar paham tentang teori dasar Realisme atau tidak, tapi yang jelas kami berdua memahami bahwa apa pun kebijakan yang kami buat semata karena kami punya kepentingan di dalamnya.

Aku mungkin lebih realistis di matanya, anggap saja seperti itu. Aku seorang tokoh realist di era milenial.

Saking realistis dalam menyikapi hidup, aku memutuskan untuk menyerah pada seorang pria yang telah menemaniku selama 5 tahun. Bukan hanya menemani tapi dia juga mencintaiku, sosoknya yang protektif dan sarat dengan ayat-ayat al Quran ketika kami berdebat, berantem atau berdiskusi.

Aku merasa bahwa dia selalu berlindung di balik ayat-ayat untuk membungkamku, bila sedang tak mengingat ayat tertentu maka aku harus siap mendengar perkataan kasar darinya dan beragam caci maki ketika emosi menyelimuti dirinya.

Wanita mana di dunia ini yang senang mendengarkan perkataan yang kasar? Aku yakin aku bukanlah satu-satunya.

Aku telah menyerah sejak jauh-jauh hari, aku mulai menyerah ketika menyadari bahwa aku bukan pasangan yang merangkap sebagai seorang pembantu baginya.

Dia membuatku harus mau untuk mengurusi cucian kotor, piring kotor, mengurus urusannya di kampus dan memastikan dia tidak akan bermasalah dengan pendidikannya. Bahkan ketika aku sebenarnya tidak bisa melakukan itu semua karena aku juga punya kehidupanku sendiri saat itu, tapi aku harus mau melakukannya.

Dia selalu berkata, semua ini sebagai latihan supaya ketika kita sudah menikah maka kamu sudah terbiasa melayani suami.

Bagiku, selama 5 tahun aku diperlakukan sebagai pacar dan pembantu. Pacar multifungsi sepertinya.

Nano, dia adalah pria idaman setiap mahasiswi. Di usia yang masih muda, Nano sudah punya segalanya mulai dari mobil pribadi jenis sedan, rumah yang ditinggali seorang diri, motor balap, dan uang yang tak pernah habis di akhir bulan.

Meskipun semua itu karena Harta orangtuanya. Aku tak lantas merasa kaget bila suatu hari Nano mengajak aku menikah meskipun kami masih sama – sama kuliah.

Tapi aku menolak dan selalu menolak. Aku punya banyak pertimbangan sebelum memutuskan untuk menikahi Nano.

Mulutnya yang kasar, serta perlakuan-perlakuan kasar yang juga aku terima setiap kali kami berantem, dan sifat manja Nano yang mambuat dia tidak bisa bertanggung jawab atas kewajibannya sebagai seorang laki-laki yang hidup sendiri jauh dari orangtua, membuatku ragu untuk melabuhkan hatiku seumur hidup padanya.

Bagaimana seseorang bertanggung jawab atas istrinya jika dia sendiri tidak bisa bertanggung atas dirinya terlebih dahulu? Nano belum dewasa sepenuhnya. Dia hanya ingin menikah.

Kebahagiaan dengan materi yang terjamin ternyata tidak membuatku benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Bagaimana pun juga aku ingin diperlakukan layaknya sebagai pasangan bukan pembantu, aku ingin didengarkan dan diperlakukan dengan baik.

Pada akhirnya, kesabaranku benar-benar habis ketika Nano menyamakan diriku dengan pelacur. Aku selalu membayangkan masa depanku jika hidup dengan orang yang suka berkata kasar bahkan tega melihatku sebagai seorang pelacur.

Aku tak ingin berlama-lama di posisi itu. Aku menyerah.

Aku memutuskan untuk benar-benar pergi dari kehidupan Nano, tidak mudah untuk mengambil keputusan seperti ini tapi hidupku lebih berharga bila dihabiskan dengan laki-laki yang tahu cara memperlakukan wanita meskipun tanpa menyodorkan segepok uang di depan wajah wanitanya.

Hafalan ayat-ayat Al Quran yang dikuasai oleh Nano tidak berarti apa-apa bagiku ketika sedang diperlakukan kasar olehnya. Nano sebaiknya mendalami Al Quran lebih lama agar dia mendapatkan potongan ayat yang menyerukan agar memperlakukan wanita sebaik mungkin.

Aku menyerah setelah 5 tahun perjalanan karena aku ingin merasakan kebahagiaan yang sebenarnya menjadi orang yang dicintai.

Karena aku bukan pembantu, aku bukan kacung.

#Ceritaku #CeritaParaPerempuan Bankir, 20-an

Advertisements

14 thoughts on “Bukan Hartamu yang Membuatku Bertahan

Feel free to tell me your opinion :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s