Aku Hanya Ingin Menikah

Kalau ada yang bertanya kenapa aku belum menikah juga, aku hanya bisa tersenyum simpul pertanda aku tidak ingin membahas masalah ini terlalu jauh dengan orang-orang yang tidak begitu dekat denganku meskipun kami memiliki hubungan darah yang aku sebut sebagai keluarga.

Lebih baik mereka tidak usah tahu alasan yang sebenarnya. Pahit kalau diceritakan dan sakit untuk dikenang.

Aku dan Didit telah lama bersama, sejak 6 tahun yang lalu kami berdua sudah bisa meraba masa depan kami berdua. Kami akan selalu sulit untuk dipersatukan dalam pernikahan. Kami tidak berbeda keyakinan jika kamu berpikir ke arah situ, bukan masalah ras atau perbedaan kelas karena latar belakang ekonomi.

Keluargaku adalah orang yang terpandang di kampung ini, tapi kekurangan keluargaku yang tidak sempurna karena orang tua yang sudah bercerai serta sodara-sodaraku yang jalannya menyimpang dan bertingkah tidak baik di mata masyarakat turut merendahkan aku di mata keluarga Didit.

Sayangnya, aku pun juga salah jalan. Gaya hidup seperti ini sudah aku jalani sejak aku masih belia sampai akhirnya aku putus sekolah. Sekarang aku sangat merindukan masa-masa remaja yang aku tinggalkan demi kesenangan sesaat anak muda, aku ingin bersekolah untuk mengubah masa depanku. Tapi sayangnya sudah tidak bisa.

Bagi teman-temanku, untuk bertahan bersama Didit sampai tahun keenam adalah hal yang sia-sia karena Didit tidak pernah berani untuk memperjuangkan aku sampai ke pelaminan karena dia sangat menyayangi ibunya. Demi ibunya, dia bertahan untuk tidak menikah kecuali memacariku dengan diam-diam.

Selama 6 tahun. Pacaran dengan konsep backstreet.

Teman-temanku sempat mencibir hubunganku dengan Didit tapi aku bisa apa, toh kenyataannya memang seperti itu. Didit tidak berani untuk nekat menikahiku, dia lebih menyayangi ibunya. Ibunya yang sudah melahirkan dia tapi tidak akan pernah bisa dia tiduri sesuka hatinya.

Namun, sejujurnya aku sangat bersyukur untuk memiliki Didit bila aku membandingkan kenyataan yang sebenarnya terjadi dengan temen-teman yang mencibirku.

Seburuk-buruknya Didit di mata mereka, setidaknya Didit bukan jenis pria yang selalu memberatkan wanitanya dengan meminta uang yang jelas tidak ada. Didit bukan jenis pria yang akan membiarkan wanitanya kesusahan karena sulit untuk memenuhi kebutuhan dirinya, Didit dengan cepat akan memberikan aku sejumlah uang.

Satu lagi, Didit bukan jenis pria yang manja dan memperlakukan aku layaknya pembantu dan tukang masak baginya. Meskipun aku dan Didit belum menikah tapi aku bahagia bersama Didit bila dibandingkan dengan suami yang hanya mematok uang belanja istri sebanyak 1 juta per bulan, selebihnya adalah uang si suami.

Tak peduli cukup atau tidak, uang belanja tetap uang belanja. Tidak heran bila temanku di luar sana setiap hari makan hati dan beresiko terkena penuaan dini dan munculnya keriput.

Sudah sejak lama aku ingin menikah dengan Didit, setelah semua yang aku lalui bersama pria-pria yang salah, hanya Didit yang terbaik di antara mereka semua. Aku tak pernah membayangkan kalau suatu saat akan mendapatkan pasangan sebaik Didit. Didit adalah pria baik diantara pria yang tidak baik bila diukur dari standar β€˜orang baik-baik’ masyarakat Indonesia.

Tapi pada kenyataannya, sampai hari ini pun Didit belum memiliki keberanian untuk menikahiku. Cinta Didit pada ibunya begitu besar sampai lupa kalau dia juga membutuhkan istri untuk menua bersama, bukan hanya ibunya yang akan dia lihat menua dengan sendirinya dan tak lagi bisa mengurus Didit.

Didit mungkin adalah satu diantara banyak pria di dunia ini yang menggantungkan kehidupan asmaranya dibawah restu orang tuanya, tak peduli betapa dia membutuhkan wanitanya tapi karena ibunya menolak tetap saja Didit akan terus bersikap berat sebelah.

Sebagian besar hati dan pikirannya adalah milik ibunya, sementara aku hanya memiliki hak penuh terhadap isi celana dalam Didit dan sebagian kecil dari hati dan otaknya. Sialnya lagi, aku hanya punya sekurangnya 2 hari untuk memiliki raga Didit selama 24 jam. Selebihnya adalah milik ibunya.

Aku tak pernah meminta Didit untuk memberikan aku kehidupan yang bergelimang harta, aku hanya ingin dinikahi Didit. Bila Tuhan tidak merestui aku untuk hidup bersama Didit selamanya, setidaknya Tuhan bisa mempertemukan aku dengan pria sudah disiapkan oleh-Nya sejak jauh-jauh hari.

Perjuangan yang sebenarnya bukan cuma soal memulai dari nol, menemani pria sejak masih pengangguran sampai nanti dia sudah menjadi orang yang mapan. Berjuang bersama Didit bukan lagi soal memulai dari 0 menuju 100, tapi perjuangan ini masih akan terus berlanjut entah sampai di angka ke berapa kecuali Didit berani untuk bertindak nekat.

 

#Ceritaku #CeritaParaPerempuan Waitress, 20an

Advertisements

24 thoughts on “Aku Hanya Ingin Menikah

  1. Waduh..melow bacanya mbak. Tahan klian backstreet ya smpe 6 thn seolah blm ada ujungnya.

    Saya ngerti dg posi2 Didit, serba slah.
    Tp sy gak ngrti dg mksud Anda isi dari clana dlm, apa itu? Anda kok bikin klimat ambigu ya, 😁😁

    Like

      1. Haha…Anda membuatnya trkesan gmn gitu. Soalnya yg tulis perempuan sih, jd gmn gitu. Tp itulah persepsi, regardless whether you really meant it or not, 😁😁

        Like

Feel free to tell me your opinion :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s