Pelabuhan Terakhirku Ada Di Barat

Sejak remaja aku sudah selalu membayangkan tentang kehidupan yang bahagia suatu hari nanti. Kehidupan seperti konsep yang aku saksikan di dalam film kartun dengan puteri-puteri yang cantik jelita dan berkulit putih bersih.

Di Negara ini, tempat di mana aku lahir dan dibesarkan ternyata penerimaan terhadap orang-orang yang berkulit gelap tidak sama dengan mereka yang berkulit cerah. Mayoritas pria dan wanita di Negara ini akan menganggapmu kurang menarik bila memiliki warna kulit yang gelap.

Aku yakin diriku tidak jelek, bahkan ketika aku membandingkan parasku dengan seorang teman yang dinilai cantik karena berkulit putih bersih. Kami sama-sama cantik dan menarik, hanya saja aku memiliki warna kulit yang dua kali lipat lebih gelap darinya.

Berkali-kali patah hati justru membuatku semakin kuat, bullying, dan mengalami penolakan dari pihak keluarga pacarku hanya karena perbedaan ras di antara kami membuat aku termotivasi untuk mencari pasangan yang lebih baik lagi.

Pasangan yang akan menerimaku lebih baik daripada mantanku yang keturunan negeri Unta bungkuk, pasangan yang nantinya akan dengan bangga memperkenalkan aku pada keluarganya dengan cara yang lebih baik dan kalau bisa dia akan dengan berani menentang aturan keluarga yang sudah dilakukan turun temurun.

Aku sudah lelah berlayar di dalam negeri sendiri, hatiku sudah pernah berlabuh di dalam dekapan para pribumi berduit tapi tidak berakhir bahagia. Terakhir kali aku labuhkan hatiku pada pria keturunan negeri Unta bungkuk dan aku merasa diperlakukan hanya sebatas teman tidur di luar jam kuliah.

Pada akhirnya, aku mengubah arah layarku ke negeri barat. Aku merasa sangat di terima di sana, aku tidak usah repot-repot memutihkan kulit badan dan wajahku agar bisa terlihat menarik di mata laki-laki.

Aku sudah tak perlu lagi gundah tentang ras dan dari mana aku berasal. Aku ini pribumi tanpa campuran darah dari ras-ras apa pun di dunia ini. Aku hanya orang Asia yang lahir besar di Indonesia.

Berlabuh dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain di negeri barat membuatku semakin yakin bahwa di dunia ini, sebenarnya kita tidak perlu takut untuk menjadi ‘perawan tua’ atau ‘bujangan lapuk’.

Semua tergantung seberapa besar usaha kita untuk menemukan seseorang yang mau menerima kita apa adanya, meskipun mereka berbeda ras dengan kita. Bila gagal dengan sesama pribumi, coba lagi dengan yang berdarah campuran, bila gagal lagi maka cobalah untuk lebih berani untuk mencintai ras lain sekalipun selalu dinilai negatif oleh orang-orang di negeri ini.

Aku bangga untuk berkencan dengan bule. Sejak awal memulai perjalanan ini, hanya sedikit orang yang mendukungku dan sebagian besar malah mencibirku. Di lingkungan bule pun aku juga harus jatuh bangun berkali-kali.

Tapi aku tidak pernah menyerah, karena bersama bule aku tidak menghadapi hambatan seperti tidak boleh menikah karena kami berbeda keturunan, aku tidak melihat hambatan seperti perbedaan suku yang biasanya menyulitkan pernikahan.

Bersama bule aku merasa bebas menjalani hubungan yang kami inginkan. Aku hanya perlu beradaptasi dengan perbedaan kultur, keyakinan dan pola pikir.

Sekarang aku sudah menikah dengan pria bule yang sangat mencintaiku sejak awal kami berkencan padahal dia bukanlah tipeku. Asal kamu tahu, sejak awal aku tidak pernah serius dengannya tapi keseriusan dia yang membuat aku jatuh cinta setengah mati.

Aku pernah berpesan pada temanku yang sedang menuliskan cerita ini padamu bahwa,

“Jika nanti kamu sudah mengalami patah hati berkali-kali, maka selanjutnya kamu tidak akan merasa sakit. You will be just like, ya sudahlah.”

Ketika aku mulai menyerah untuk mewujudkan kisah cinta dengan akhir yang bahagia, ternyata Tuhan malah memberikan aku pria yang nantinya akan membantuku untuk mewujudkan itu semua.

Sekarang kami sudah memiliki seorang bayi mungil yang parasnya tak kalah cantik dari bayi-bayi hasil kawin campur yang pernah kamu temui.

Nantinya, anakku akan menjadi anak yang paling cantik di sekolahnya dan aku yakin dia tidak akan mengalami bullying seperti ibunya dulu. Kulitnya putih bersih dengan wajah yang sangat mirip denganku.

 

#Ceritaku #CeritaParaPerempuan Ibu Rumah Tangga, 20anย 

Advertisements

34 thoughts on “Pelabuhan Terakhirku Ada Di Barat

  1. Entah kenapa selalu suka sama keturunan indo. Seperti semacam anak campuran yg selalu spesial di sekitar kita. Malah kelihatan lebih wah dibanding yg murni bule. Nah tuh udah dpt bule belum mbak? โœŒ๐Ÿ˜Š

    Like

      1. baper juga sih..
        soalnya aku dulu juga minder dengan kulit hitamku..
        tapi yah, namanya cinta sejati, tak pandang mana yang putih dan mana yang hitam..
        karena cinta tulus itu datanya dari Hati…
        eaaahhh, wkwkwkw ๐Ÿ˜›

        Like

  2. orang bule suka sama orang Indo yang berkulit gelap dan tubuhnya berisi. bukan yang langsing putih. istilahnya eksotis. lebih seksi gituuuh. ->> ini pendapatku karena melihat beberapa bule yg rata2 istrinya berciri seperti itu

    Like

Feel free to tell me your opinion :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s