Bibikku Inspirasiku

Kebetulan kemarin saya sempat bahas bibik, saya jadi teringat sama bibik yang pernah bantu-bantu di rumah. Bibikku namanya kak Neny (disamarkan), saya juga lupa bagaimana awal dari perkenalan mama dengan kak Neny ini. Sampai pada suatu hari, mama memperkenalkan kami dengan sosok kak Neny.

Waktu itu saya masih SMA, awalnya sih kak Neny direkrut untuk bersih-bersih rumah nenek tapi karena nenekku cerewet banget dan selalu protes soal kak Neny akhirnya mama minta supaya kak Neny kerjanya di rumah kami aja. Kan kasian kalo diomelin terus sama nenek.

Meskipun di rumah udah ada bibik, mama tetep pesen ke kami kalo baju-baju yang udah disetrika harus diatur sendiri ke lemari jangan nyuruh kak Neny lagi. Tapi ya dasarnya males dan serba gak sempat, biasanya kak Neny juga yang aturin ke lemari.

Ujung-ujungnya, saya juga yang diomelin mama. Dulu ya, kadang saya ngerasa kalo mama lebih sayang sama kak Neny haha. Trus, mama juga selalu ingatin kalo kami makan harus selalu ngajak kak Neny untuk duduk satu meja dan nggak boleh dibedain.

Suatu hari, saya lagi ngobrol sama kak Neny. Awalnya bahas-bahas soal sekolahku, trus merembet ke curhatannya kak Neny tentang masa lalunya. Jadi, kak Neny ini dulunya menikah muda entah berapa usia tepatnya saya lupa tapi yang jelas kak Neny nggak sempat merasakan sekolah SMP.

Kak Neny dinikahkan dengan pria yang usianya lebih tua karena alasan ekonomi, menurut kak Neny saat itu usia pria itu sekitar 30an yang berarti rentang usia mereka berbeda 10-15 tahun lah.

Selain pernikahan (terlalu) dini, kak Neny juga harus berurusan dengan kehamilan di usia yang masih belia tapi alhamdulillah bayinya sehat dan kak Neny selamat. Kemudian suatu hari mereka bercerai dan kak Neny berjuang sendiri untuk anaknya, meskipun bekerja ke sana sini sebagai seorang bibik.

Kak Neny sempat bilang sama saya kalo dia menyesal karena dulunya nggak sekolah tapi menikah dengan pria pilihan ibunya. Seandainya dulu kak Neny sempat bersekolah mungkin hari ini dia nggak akan bekerja sebagai bibik tapi udah punya pekerjaan yang lebih baik. Begitu kata kak Neny.

Sejak saat itu, saya termotivasi untuk terus sekolah apa pun rintangannya tetep aja saya laluin karena saya nggak bisa membayangkan hidupku jika menjadi seorang bibik suatu hari nanti. Cuci piring aja masih ada yang pecah (saat itu), gimana mau beresin piring orang.

Pertemuanku dengan kak Neny berakhir ketika saya sudah lulus SMA, kata mama karena saya udah mau kuliah jadi nggak usah ada bibik lagi di rumah toh mama juga kurang sreg dengan hasil kerja orang yang nggak sesuai dengan caranya mama. Daripada diomelin mending diberhentikan secara baik-baik aja.

Di mana pun kak Neny sekarang, mungkin dia nggak pernah kepikiran kalo obrolan kami di dapur bertahun-tahun lalu telah membantu saya untuk terus semangat memperbaiki hidup dan meningkatkan kualitas diriku. Kisah-kisah pilu kak Neny cukup membuat saya ikut sedih karena saya pasti membayangkan kejadiannya dan belajar memahami perasaannya.

Otomatis gitu lho, makanya sih saya kalo denger orang curhat yang sedih-sedih sering ikut terbawa emosi juga hahah. Saya cepet iba gitu.

Hmm.. terima kasih kak Neny.

Advertisements

4 thoughts on “Bibikku Inspirasiku

Feel free to tell me your opinion :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s