Kalau Saja Aku Bisa Merubah Masa Lalu

Kalau saja aku bisa merubah masa lalu, aku Cuma ingin merubah satu kesempatan yang pernah aku dapatkan di dalam hidupku. Aku hanya ingin merubah kesempatan untuk tidak bertemu, berkenalan bahkan untuk tidak jatuh cinta kepada laki-laki yang pernah aku sebut sebagai suamiku.

Apakah karena aku menyesal menikahi dia? Sekarang bukan lagi soal menyesal atau tidak, bahkan untuk menyesal pun aku sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali aku menyesali keputusan untuk menikahi laki-laki pilihanku sendiri.

Mungkin aku telah berdosa dengan mengatakan hal seperti ini tetapi Tuhan pasti tahu apa yang aku rasakan saat ini. Biarlah Dia yang memutuskan apakah aku berdosa dan terhina atau tidak, kamu dan aku sama-sama manusia biasa yang tidak sepenuhnya mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi.

Berdosa atau tidak, biarlah menjadi urusanku dan Tuhanku.

Dulu, mungkin aku adalah perempuan yang paling beruntung di kampungku karena aku mendapatkan laki-laki yang menjadi idaman para wanita di kampung ini. Dia adalah laki-laki yang rupawan dan berkulit putih, tapi dia bukan pria bule.

Bisa aku katakan kalau dia hanya bermodal tampang yang rupawan untuk meminangku, selebihnya hanya bermodal cinta dan keadaan yang mendukung kami untuk segera menikah. Singkat cerita, akhirnya aku menikahi dia.

Sejak awal memulai semuanya, kehidupan kami tidak pernah mulus. Jauh sebelum suamiku menjadi sukses seperti sekarang, aku tak pernah mengeluh untuk menjalani kehidupan yang melarat bersamanya.

Aku menyebutnya melarat karena pada saat itu kami berdua masih muda, tanpa pekerjaan dan pendidikan yang mendukung untuk mendapatkan pekerjaan yang bergengsi. Suamiku mengawali semuanya dari pekerjaan serabutan sampai akhirnya dia mendapatkan kedudukan yang lebih baik di sebuah perusahaan besar di pulau ini.

Masih lekat di dalam memoriku, rupa kontrakan murahan yang pernah kami tinggali di daerah pinggiran kampung ini. Kami hanya mampu menyewa kontrakan murah tanpa kunci pada pintunya, bahkan saking melaratnya sampai kami tak mampu untuk membeli grendel atau gembok untuk pintu rumah mungil kami.

Dulunya, sekitar tahun 1980-1990an kehidupan seperti yang kami miliki masih terbilang normal untuk dimiliki oleh orang-orang di jamanku. Hanya segelintir orang yang sudah hidup dengan kemapanan dan sisanya adalah kehidupan yang diwarnai dengan semboyan ‘menemanimu dari NOL’.

Kini, ketika suamiku sudah berada di puncak kejayaannya sebagai laki-laki yang kita kenal dengan sebutan ‘mapan dan aman’ ternyata dengan mudahnya berubah menjadi sosok yang persis dengan peribahasa ‘kacang lupa kulitnya.

Kemudian suatu hari, aku menyadari satu hal bahwa ternyata semboyan ‘menemanimu dari NOL’ tidak memiliki kekuatan yang besar untuk membuat seseorang tetap bertahan dalam sebuah hubungan. Aku juga tersadar bahwa, ternyata wanita tidak selamanya harus mau menemani seorang pria merintis segalanya dari NOL menuju puncak tertinggi.

Karena pada kenyataannya, kamu yang menemani dia dalam perjalanan belum tentu akan menikmati hasil dari sebuah perjuangan yang kalian sudah lakukan selama ini.

Dan kalau saja aku bisa merubah masa lalu, aku ingin menjadi jenis wanita yang menunggu pria di puncak dan bukan menjadi wanita yang menemani pria mendaki menuju puncak kejayaannya karena meskipun nanti aku tetap akan gagal lagi toh setidaknya aku belum pernah merasakan kemelaratan hidup dengan pria yang bersamaku nantinya.

Itu hanya seandainya, tapi pada kenyataannya sekarang… aku harus menelan pil pahit pernikahan karena pada akhirnya aku berpisah dari suamiku yang membuang diriku begitu saja ketika dia dengan mudah mendapatkan penggantiku.

Pengganti diriku yang merapat ke sisi suamiku ketika harta hanya berjarak seujung jari dari pangkuan suamiku. Sialan.

 

#Ceritaku #CeritaParaPerempuan Ibu Rumah Tangga, 50an

Advertisements

18 thoughts on “Kalau Saja Aku Bisa Merubah Masa Lalu

  1. Nggak baik bicara hal-hal negatif seperti di atas. Bukankah ketika bercerai akan dapat harta juga dari suami. Mengganggap diri sebagai korban bukan sesuatu yg bagus.

    Like

  2. Kalo baca yang model gini tuh bikin maju mundur buat nikah, bhahaha. Tapi tergantung orangnya sih, contoh nyata ya Ibu sama Bapakku yang sama-sama bermula dari 0 dan sampai sekarang masih langgeng, semoga selamanya 😀

    Like

  3. Sukaa, gak ada kewajiban buat nemani dari 0 soalnya memang gak ada jaminan dia tetap bertahan sama kita sih ya kak asti, hehehh
    Terkadang ada hikmahnya nemani dr bawah, kitanya tau gmna cranya brthan ktika sm sm lg d kondisi gak enak, punya banyak alasan biar cpet bangkit, dll kan pengalaman mahal bgt, itu mnrtku sih heheh😄

    Like

Feel free to tell me your opinion :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s