Gangguan Jin atau Indera Keenam? [Bagian 3]

Mungkin kamu baru mampir ke blog ini di saat saya menuliskan bagian ketiga tentang ‘tanda tanya’ besar yang sedang saya alami selama 4 tahun terakhir. Untuk membaca bagian ketiga ini saya rasa belum cukup untuk membuatmu paham tentang tujuan dibalik penulisan postingan yang terkesan nggak masuk akal ini.

Sebelum kamu melanjutkan untuk membaca, saya sarankan agar kamu kembali ke bagian satu dan bagian dua sebelum membaca kelanjutan paragraf ini.

Pencarian saya terus berlanjut, saya belum percaya bahwa meditasi ‘sembarangan’ saya telah menunjukkan bahwa saya itu sebenarnya punya indera keenam dan bisa melihat ke masa depan.

Come on! I need some valid explanations than just some noise that I heard for no reason!

Akhirnya Pak Yuyu membuatkan janji untuk saya dengan seorang dosen yang ruang kerjanya berada di lantai 3 gedung FISIP. Saya lupa, apakah dia dosen psikologi atau dosen pendidikan guru.

Itu lho yang kalo lulus pake gelar S.Pd di belakang namanya.

Sebut saja namanya Pak Docen. Saya menemui Pak Docen dengan ditemani oleh beberapa teman saya, Timtim, Keke, dan Yura. Yura adalah teman sekosan saya di kos Merah (tempat di mana saya mulai mengalami gangguan) sedang dua orang lainnya adalah teman sekelas saya.

Setelah menceritakan awal mula saya mengalami gangguan sampai akhirnya saya memutuskan untuk menemui Pak Docen.

Pak Docen : Anak luar Jawa ya, mba?

Saya : Iya pak, hehe kok tahu ya saya berasal dari luar Jawa?

Pak Docen : Iya tahu. Suku bugis ya?

Saya : Iya pak, hehe.

Pak Docen : Dari tadi kita ngobrol, kamu cerita tentang kakekmu, kamu nggak tahu kalo leluhurmu itu sudah ada di belakangmu sejak tadi.

Kami : Hahhhh?

Saya : Leluhur? siapa ya pak, kok bisa hadir sih. Emangnya yang begituan beneran ada pak?

Saat itu saya nggak takut atau merinding tapi saya masih belum bisa percaya dengan perkataan Pak Docen. Bukannya saya nggak menghargai orang tua, tapi serius deh saya butuh penjelasan yang rasional terkait hal-hal seperti ini. Bagaimana bisa leluhurku yang saya aja nggak pernah tahu seluk beluknya, kok bisa hadir cuma karena saya sebut-sebut nama kakekku sih?

Seriously? Do I have to say yes to the things like that?

Pak Docen : Leluhurmu berasal dari lingkungan kerajaan di Sulawesi, kerajaan yang besar di sana. Sekarang kamu ada di tanah Jawa, kamu sudah dititipkan dengan ‘orang-orang’ di tanah Jawa untuk dijaga selama di perantauan.

Saya : (ya Allah, obrolan apa lagi ini?) haaaaaa? kakekku nggak pernah cerita soal itu pak. Beliau cuma cerita kalo dia dulu punya Jin yang dia pungut di hutan, lututnya bersusun 7, dagunya panjang, pake celana kolor selutut gak pake baju. Namanya *******

Pak Docen : Iya, memang benar. Tapi kamu mewarisi kemampuan ini dari keturunanmu, dari buyutmu. Coba ingat-ingat, siapa keluargamu yang punya kelebihan seperti kamu ini.

Saya : Pak, seandainya memang benar di keturunan saya ada yang seperti ini berarti nggak bisa dihilangin ya?

Pak Docen : Mba Asti, segala hal yang diwarisi dari keturunan itu mengalir di dalam darah. Jadi tidak bisa dihilangkan.

Kalo gue cuci darah, bisa nggak ya dihilangin?

Saat itu, karakter ngeyel saya seolah mengambil alih semua karakter kepribadian yang ada di dalam diriku seperti adegan film Split. Bedanya, namaku tetap Asti hanya saja ada tambahan di belakang nama, Asti Ngeyel!

Saya nggak bisa percaya dengan fenomena indera keenam ada karena keturunan atau indera keenam karena ilmu turunan dari leluhur seperti ini. Saya nggak merasa kalo keluarga saya mewarisi ilmu-ilmu yang mengandalkan kepekaan indera keenam karena saya memang nggak tahu siapa sanak keluarga yang punya kemampuan seperti ini.

Kalo kamu berpikir bahwa saat itu saya adalah anak muda yang keimanannya sedang diuji lalu saya bersifat sombong dengan mengingkari hal-hal gaib yang diciptakan Tuhan, saya terima.

Seperti inilah ‘penglihatan’ Pak Docen tentang apa yang sebenarnya terjadi di Kos Merah (saya hanya menuliskan inti obrolan kami yang masih saya ingat) :

Pak Docen : ‘penghuni’ kamarmu di Kos Merah, sebenarnya marah karena di sana selalu dilakukan hal-hal yang menyimpang.

Saya : hal-hal menyimpang seperti apa ya pak, saya nggak pernah bawa lakik masuk kamar karena kosan saya khusus cewek dan ibu kos saya tinggal seatap dengan kami anak kosan. Saya nggak pernah mabok-mabokan di kamar kosan, asap rokok aja saya nggak suka pak.

Pak Docen : ‘penghuni’ kamarmu itu sedang marah sama kamu karena perbuatanmu sendiri. Kamu pikirkanlah apa yang sudah kamu perbuat di kamar itu.

Saya : Trus, sekarang saya harus gimana pak? Saya takut pak setiap tidur harus ketindihan kemudian lihat makhluk-makhluk aneh.

Pak Docen : kamu harus perbaiki perilakumu, oh iya, coba nanti kalo pulang kamu foto area depan kosanmu dan tunjukkan ke saya. Nanti bapak bantu terawang dari jauh, bagaimana sebenarnya kondisi rumah kos mu.

Kalo kalian jadi saya, kalian langsung percaya gitu cuma lewat foto trus seseorang bisa menerawang area rumahmu beserta makhluk apa aja yang eksis keliaran di pekarangan, di parkiran, di kamar mandi, bahkan di kamarmu?

Kemudian saya pulang dan membicarakan hal ini dengan mama via telepon. Saya bertanya tentang seluk beluk keluarga mama dan papaku, menurut mama baik keluarga papa atau mama bukan berasal dari lingkungan kerajaan meskipun kampungku dulunya memang bagian dari sebuah kerajaan di Sulawesi Selatan.

Lalu, apakah yang dikatakan oleh Pak Docen tadi benar adanya atau hanya menebak-nebak saja? Kalo pun begitu, biar apa? Dan meskipun beliau memang berkata benar, saya ini turunan raja yang mana?

Trus, gue mesti percaya siapa dong?

Setelah pertemuan saya dengan Pak Docen, saya nggak melanjutkan untuk memotret area kosan saya dan apa pun yang diarahkan oleh beliau. Saya masih kekeuh dengan logika saya saat itu, tidak ada asap kalo tidak ada api.

Apa saja bisa terjadi, tapi setidaknya ada penyebab yang jelas dari suatu sebab. Selalu ada reaksi dari aksi yang terjadi. Begitu juga dengan apa yang sedang saya alami.

Saya masih mencari jawaban yang bisa membuat saya mengerti tentang apa yang sebenarnya saya alami, apa tujuannya lalu apa yang harus saya lakukan untuk menghadapi situasi seperti ini.

Sejak dulu saya nggak pernah tertarik untuk bergelut di dunia jin dan persetanan seperti ini, bahkan untuk mikirin setan dan teman-temannya aja saya males. Serius.

 

 

 

Advertisements

10 thoughts on “Gangguan Jin atau Indera Keenam? [Bagian 3]

  1. Duh saya baca dari bagian satu ampe tiga pas sendirian gini.Asli ada sensasi merinding-merinding sedapnya..

    Btw berarti sekarang mba dah konsultasi ke ahli spritual2 gtu lagi ya mba?
    Saya juga kurang mau tahu sih soal gitu2an.Meskipun saya mempercayainya.

    Like

Feel free to tell me your opinion :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s